Puisi yang Berjalan di Malam Hari
Udara yang dihirup di kota ini adalah udara penderitaan.
Pernahakah kuceritakan kepadamu bagaimana ia mati?
Angin berkseiur seperti hawa pembunuhan.
Para pecundang mengurung diri di altar bisu.
Syahdan, sebait puisi berjalan di malam hari
berkunjung ke kubur Marsinah.
Peringatan hari buruh berlalu dengan karnaval
kata-kata, diakhiri upacara singkat.
Syahdan, sebait puisi bertanya bagaimana Marsinah mati?
Marsinah tak menjawab. Ia duduk tertegun
di batu nisannya. Telunjuknya menorehkan
sebait puisi di gundukan tanah kuburnya:
Tak ada kata yang tepat untuk mengomentari
zaman yang manarik garis di sisi lain.
Aku hanya lilin disulut api.
Cahayanya redup menerangi setiap langkah.
Padam ketika tubuhku meleleh.
Aku hanya ingin menularkan
harapan dalam kesuraman