Archive for August, 2008

Positive Thinking

Wednesday, August 27th, 2008

Sakit memang ditinggal sang kekasih
Tapi kamu harus terima kenyataan
Tetap tenang, positive thinking
Anggap saja dia bukan jodohmu

Hey.. *
Jangan melamun
Gak ada gunanya
Gak akan mengubah keadaan

Awas…
Kamu kesurupan
Kemasukan setan
Nanti lupa diri
Jadi tambah edan

Jangan nyerah gitu dong
Coba cari yang lain
Di bumi ini gak cuma dia seorang
Masih banyak kok yang bisa
Lebih baik dan mengerti
Terima kamu apa adanya

Sakit hati bukan berarti pasrah
Pasti semua kan ada hikmahnya
Berusaha terus berdoa
Anggap saja dia bukan jodohmu

Back to Reff *
Kupersembahkan untuk seseorang..

Adakah Nabi setelah Nabi Muhammad SAW

Wednesday, August 20th, 2008

Sangsi bagi perusak agama
Firman Allah SWT dalam Al-Quran An-Nisa ayat 115
“Dan barang siapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (An-Nisa :115)

Penodaan Agama
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 156a
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :
1. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia
2. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan ke Tuhanan Yang Maha Esa

Adakah Nabi Setelah Nabi Muhammad SAW
Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tarmidzi, Rosulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya akan ada dari ummatku tiga puluh orang pembohong, mereka mengaku dirinya adalah Nabi dan sesungguhnya saya adalah penutup nabi-nabi, tidak ada lagi nabi setelah saya” (HR. Imam Tarmidzi)

Sejak Islam tersebar dimuka bumi ini hingga jaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diabad modern sekarng, ternyata sudah banyak orang-orrang yang muncul ditengah-tengah masyarakat menda’wahkan dirinya sebagai nabi. Mereka masing-masing menngaku sebagai nabi sambil berupaya menarik simpati ummat. Hal itu terjadi baik di Jaman Rosulullah SAW masih hidup maupun setelah beliau wafat.

Sebagai contoh kami tulis disini dua orang diantara Kadzabun, seorang mengaku dirinya sebagai nabi yang muncul pada jaman Rasulullah SAW masih hidup yaitu Musailamah yang bergelar Musaialamah Al-Kadzab dan seorang lagi mengaku dirinya sebagai nabi yang muncul pada abad ke 13 Hijriyah atau abad ke 19 Miladiyah yang tentunya setelah Rasulullah SAW wafat yaitu Mirza Ghulam Ahmad.

Dalam upayanya meyakinkan ummat bahwa dia adalah nabi, Musailamah telah mencoba memalsu Al-Quran dengan merubah surat Al-Kautsar yang paling pendek dalam Al-Quran yang terdiri dari tiga ayat yaitu :
Artinya : “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nik’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan sembelihlah qurban. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (yakni yang terputus dari rahmat Allah)”

Gubahan Musailamah
Artinya : “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu permata-permata. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berpindahlah sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu adalah orang kafir”

Maksud Musailamah ingin menarik simpati orang dan ingin meyakinkan ummat tentang dirinya sebagai nabi, setelah merubah surat Al-Kautsar tersebut menjadi gagal total, malaj orang-orang menambah kata Al-Kadzdab dibelakag namanya sehingga menjadi Musailamah Al-Kadzdab yang berarti Musailamah pembohong.

Kholifah pertama yakni Abu Bakar As-Shidiq r.a beliau telah menyelematkan Al-Quran dari pemalsuan tangan kotor Musailamah Al-Kadzdab dengan memerangi Musailamah Al-Kadzdab sampai habis tidak berkembang.

Berikutnya Mirza Ghulam Ahmad yang menda’wahkan dirinya sebagai nabi dan rosul, bahkan bukan hanya itu, dia mengaku pula sebagai Isa Al-Masih dan Imam Mahdi. Pengakuan Mirza Ghulam Ahmad tersebut menjadi dasar atau prinsip keyakinan orang-orang Ahmadiyah. Keyakinan mereka itu bersumber pada kitab sucinya yang bernama Tadzkaroh yang isinya merupakan hasil bajakan ayat-ayat Al-Quran yang dipenggal-penggal kemudian disambung dengan kata-katanya sendiri (Mirza Ghulam Ahmad)

Contoh dalam kitab Tadzkaroh bajakan dari Al-Quran surat Al-Qodar ayat 1
“Sesungguhnya kami menurunkannya pada malam Qodar” – “Sesungguhnya kami menurunkannya kepada Al-Masih Al-Mau’ud”

Bajakan dari AL-Quran Surat Ali-Imron ayant 31 :
“Katakanlah (wahai Mirza Ghulam Ahmad). Sesungguhnya aku diperintahkan dan aku yang pertama beriman – katakanlah : kalau kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian”.

Bajakan dari Al-Quran surat Yasin ayat 2 dan Surat Al-Hijr ayat 94
“Sesungguhnya engkau (Mirza Ghulam Ahmad) berada diatas jalan yang lurus – Maka mulailah terhadap apa yang diperintahkan dan berpalinglah dari orang-orang jahiliyah (bodoh)”

Ironinya kitab Tadzkiroh yang menjadi sumber keyakinan mereka orang-orang Ahmadi (sebutan pengikut orang-orang Ahmadiyah) disembunyikan sehingga tidak banyak dikenal kalangan mereka. Keadaan seperti itu tampak sekali ketika dilangsungkan dialog yang berlangsung sampai lima kali pertemuan antara pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kuningan dengan Tokoh-tokoh Ahmadiyah yang dikirim ke Kuningan oleh Pimpinan Pusat mereka di Jakarta sebagai peserta dialog.

Adapun Al-Quran mereka anggap sebagai sumber hukum yang pertama, tapi jika terdapat diantara ayat-ayatnya yang bertolak belakang dengan keyakinan Ahmadiyah dalam kitab Tadzkiroh maka ayat-ayat tersebut mereka rekayasa ma’nanya dengan mempergunakan ta’wil sehingga sesuai dengan keyakinan dan keinginan mereka walaupun mantuq ayat tersebut itu sudah jelas termasuk muhkamat bukan mutasyabihat.

Demikian pula dalam mema’nai hadits. Bahkan hadits shohih (benar dan kuat) dan shorih (jelas) yang berlawanan dengan aqidah Ahmadiyah, mereka tinggalkan dan hadits doif bahkan hadits palsu sekalipun jika mendukung aqidah Ahmadiyah, mereka ambil. Mereka tidak peduli lagi dengan disiplin ilmu-ilmu agama.
Disinilah letak perbedaan yang sangat jauh antara Islam dengan Ahmadiyah. Orang-orang Ahmadiyah lebih percaya kepada kitab Tadzkiroh daripada kepada Al-Quran dan lebih percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad daripada kepada Nabi Muhammad SAW.
Karena itu tidak dibenarkan kalau orang-orang Ahmadiyah mengaku sebagai ummat Islam. Merekapun tidak mengesahkan sholat berjamaah dengan ummat Islam. Tapi mereka bersikukuh mempergunakan nama Islam bagi ajarannya karena disitulah letak kekuatan Ahmadiyah, terutama dimata pengikutnya.

(Dikutip dari brosur MUI Kab. Kuningan)

Nothing is Impossible

Thursday, August 14th, 2008

Segalanya serba mungkin di era jaman sekarang ini semua serba teknologi. yang tadinya ga mungkin jadi mungkin